Halaman

Minggu, 12 Juli 2020

Ranting Yg Patah

Daunnya layu, padahal baru merekah
Rantingnya rapuh, padahal baru tumbuh
Ada yg patah diantara harap dan pilu
Bukan tanpa kata, apalagi tanpa makna
Penuh isyarat dan juga tanda tanya
Ada yg patah diantara dua titik temu
Tak akan bertemu karena patah telah lebih dulu menyapa dalam sendu
Secercah asa telah terbakar, habis tak tersisa
Tak lagi ada harap dan pinta yg menggema
Yg patah akan tumbuh, tapi tidak dengan tunas yg telah ada....
Yg patah tumbuh dengan tunas yg baru
Yg merekah dan semerbak wanginya

Bumi lancang kuning, 17 Juni 2020

Bahagia ku Sederhana

Semakin dewasa tampaknya cara seseorang untuk bahagia semakin butuh usaha
Katanya bahagia itu sederhana, tapi nyatanya banyak orang dewasa justru lupa apa arti bahagia itu sebenarnya

Beberapa orang dewasa mengatakan bahwa bahagia itu adalah ketika nonton film terutama box office, makan di tempat yang fotogenic, berfoto dengan makanan dan teman-teman ketika hangout, berkaroke ria, shopping, dan menghabiskan waktu weekend lainnya dengan teman-teman, katanya untuk mengubur penat di tengah weekdays yang membunuh.

Tapi aku punya arti dan cara tersendiri untuk bahagia.
Menurut ku, bahagia itu adanya disini (hati) bersama orang terkasih dan hal-hal yang berarti. Bukan tentang menunjukkan bahwa kita bahagia dengan melakukan sesuatu dan membaginya di sosial media. Bukan tentang membakar semua pundi-pundi rupiah demi bisa bergabung dan berkumpul dengan teman-teman di tempat yang mungkin di pandang akan naikkan personal branding. Bukan tentang mencari attention dan pengakuan dari publik bahwa kita sedang terlihat bahagia. Bukan tentang bagaimana cara kita menggunakan dan melakukan sesuatu sesempurna mungkin. Karena menurut ku, bahagia itu bukan sesuatu yang di konstruksi tapi sesuatu yang di alami. Melakukan sesuatu karena sebuah ke sadaran dan kesenangan akan suatu hal sesederhana mungkin.

Ini adalah bahagia versiku...........
Bekerja di sebuah perusahaan yang berkantor di ibu kota daerah, tanpa di sadari mungkin akan membentuk para karyawannya menjadi kaum-kaum hedonis dan borjuis. Tanpa kita sadari, weekend menjadikan kita sebagai budak pasar, setelah di weekdays menjadi budak kapitalis. Tanpa di sadari, kita mengkonstruksi hidup kita untuk terus menerus menjadi buruh. 
Teman – teman yang di dominasi oleh para perantauan yang datang dari luar daerah membuat mereka menjadikan mall dan cafe sebagai penghibur dan pengubur kepenatan. Tidak ada yang salah. Meskipun setiap weekend aku harus ikut membakar uangku untuk sesuatu yang awalnya coba aku jelajahi dan mengerti. Namun, semakin lama aku sadar, bukan ini cara untuk bahagia versiku. Ntah kenapa, semakin kesini aku semakin gk ikhlas kalau harus bakar uang kesana kemari hanya untuk sekedar lunch, nonton, atau makan malam atau kongkow dan sebagainya. Semasa kuliah aku hobbi banget kongkow sampai malam, diskusi sana sini. Ya bakar uang juga sih, tapi esensi nya beda. Dulu semasa mahasiswa selalu ada topik yang asik sembari menemani menyeduh secangkir kopi, hingga tanpa di sadari kopinya telah dingin sebelum di minum. Seasik itu kongkow malam itu. Tapi sekarang, kongkow nya kosong tanpa isi. Malah terkadang, aku lebih asik fokus pada kopi ku daripada dengan pembahasan apa yang sedang di usik.
Bagaimana bisa, berkumpul dalam satu meja tapi yang dibahas adalah kepribadian dan tingkah laku orang lain, bagaimana mungkin makan dengan satu meja, tapi satu sama lain lebih asik dengan telpon genggam masing-masing sembari berfoto dengan apa yang telah di pesan. Bagaimana mungkin berkata-kata namun asik membandingkan kekayaan antara satu orang dengan orang lain, bagaimana mungkin prilaku konsumtif menjadi trending topic dalam setiap sapaan. Tentang aku telah beli ini, itu bagus, kok bisa punya, beli dimana, aku mau, beli yang ini, beli yang itu. Film ini bagus, ini pemerannya itukn, kapan tayang, kita wajib nonton nih, jangan lupa foto. Foto dulu yuk. Taq aku ya, mention ya. Jangan lupa comment dan love postingannya.
Asli eneq dan muak dengan semua tingkah yang mohon maaf, menurutku gk berfaedah. Mau orang punya apa dan pakai apapun, itu mah urusan dia. Mau dia beli ini, itu , ini bagus, itu bagus. Aduhh, kenapa parameter pasar menjadi begitu sempit.

Aku bahagia dengan hal-hal yang sederhana,
Bawa wishkes (makanan kucing) di dalam tas everywhere, jadi kasih makan kucing dimanapun jumpa :)
Beli makanan untuk anak-anak jalanan, yang ngamen dan jualan tisu di lampu merah mal ska. Liat mereka senyum sembari memakan snack,roti, susu dan makanan lainnya itu uda buat senyum-senyum sendiri.
Ngajak keponakan ikut belanja bulanan bareng dengan ngebebasin mereka main dan belanja, itu juga uda buat adem dan senyum :)
Jogging tiap minggu dan main badminton dengan ponakan, juga uda bisa buat seneng.
Berbagi donasi dengan beberapa rumah tahfidz, pembangunan masjid dan kegiatan TPA di mushalla juga gk kalah membahagiakannya.
Menulis, merangkai kata dan mencipta sajak jadi yang paling bisa mewakili isi hati .
Bahagia ku tidak dengan bersosial media, rasanya aksi nyata jauh lebih terasa efeknya :)
Maaf untuk semua mention di story instagram yang tak pernah ku repost. Ntah kenapa, aku justru malu jika harus berbagi foto dengan situasi makan di tempat tertentu, foto dan nonton di tempat tertentu,para milenials mungkin akan menganggap hal ini biasa. Iyaa mungkin akunya aja yang agak lebay.
Kalau di kalkulasikan, mungkin nominal yang aku keluarin bahkan lebih besar daripada nominal untuk jajan pribadi dengan teman-teman. Tapi ntah kenapa, rasanya aku lebih ikhlas dan bahagia dengan hal itu. Rasanya gk ikhlas aja gitu, kalau gunakan uang hanya untuk diri sendiri, betapa gk bermanfaat dan tamaknya saya, gk ada dampaknya untuk sekitar.
Ini bahagia versi ku, maaf kalau aneh dan receh :)