Statement presiden yang menghimbau masyarakat untuk berdamai dengan virus corona menuai kontroversi dari publik. Jelas saja kontroversi, lah wong di maret 2020 aja tuhh, presiden sendiri yang bilang kalau kita harus melawan corona dalam kata lain mengajak masyarakat untuk berjuang memutus mata rantai penularan. Belum juga ada penurunan kasus yang signifikan, PSBB di beberapa daerah juga masih serabutan belum tertib aturan. Dan sekarang pak presiden yang terhormat mengajak masyarakat untuk berdamai dengan corona ? Kalau tuh virus gk mau berdamai gimana pak? Kalau tuh virus ngajak sahabatan gimana pak,menjadikan tubuh manusia sebagai inangnya ? Atas dasar apa kita harus berdamai dengan doi pak ? Doi tuh ganas pak gk jinak . Dunia memerangin corona aja nih pak, uda banyak korban berjatuhan, menghalau atau menjatuhkan lawan apakah jalan terakhir adalah berdamai pak ? Damai itu memang indah pak, tentram tenang dan nyaman. Tapi ya kalau berdamainya dengan tuh virus corona, selesai yang ada kita pak.
Beberapa negara yang awal kasus penyebarannya melakukan lockdown kini sudah mulai melonggarkan aturan, bahkan sudah sampai pencabutan status lockdown, dikarenakan adanya penurunan kasus dan telah melewati puncak pandemik. Ini yang menjadi alasan beberapa kepala negara mengambil kebijakan pencabutan status lockdown di negara mereka. Berbeda halnya dengan Indonesia, bahkan sampai hari ini tidak ada yang tau pasti di mana letaknya kurva puncak pandemik yang terjadi. Dikarenakan terus terjadi peningkatan kasus setiap harinya. PSBB sudah dilakukan di berbagai daerah namun tampaknya hal tersebut belum efektif. Bukannya melakukan evaluasi untuk menurunkan peningkatan kasus dan memperbaiki sistem maupun regulasi, pemerintah yang ada malah mengeluarkan pernyataan untuk berdamai dengan corona. Hal ini kemarin langsung disampaikan oleh presiden sendiri. Dengan dalih ini virus gk akan pernah hilang, alias harus terbiasa hidup berdampingan dengan virus. Ya gk berdampingan jugak kali pak !
Pernyataan presiden itu tentu menuai kontroversi di tengah masyarakat. Dan seperti biasa, ketika ada informasi yang ramai di perbincangkan, pasti setelahnya ada seorang klarifikator yang meluruskan maksud dari pernyataan yang di sampaikan. Kalau di luruskan, berarti yang kemarin bengkok ? ngawur ? atau ngablun ? atau asbun? Atau ngeblunder ? Ehhhh hahaha. Benar saja, berdasarkan info dari Kompas.com, juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19 Achmad Yurianto melalui keterangan pers di Graha BNPB, Jakarta menegaskan soal hidup berdamai dengan virus corona, sebagaimana yang sempat dibicarakan oleh Presiden Joko Widodo . Menurut Yuri, hidup berdamai dengan virus corona artinya beradaptasi dengan pola hidup baru dengan menjalankan protokol kesehatan secara ketat. “Berdamai bukan menyerah, tapi kita harus beradaptasi untuk mengubah pola hidup kita dengan menjalankan protokol kesehatan yang ketat, benar, disiplin,” kata Yuri dalam konfrensi pers dari Graha BNPB, Jakarta, Sabtu (16/5/2020).
Berdasarkan laporan World Health Organization (WHO), kata Yuri. Virus corona tidak akan hilang dalam sekejap. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya mengubah perilaku diri demi menjaga kesehatan. “Ini permasalahan yang akan menimpa seluruh negara. Maka, saatnya kita sekarang mengubah perilaku kita untuk hidup dalam kondisi bumi yang masih terancam dengan adanya virus corona”. Tambah Yuri.
Singkatnya, jubir pemerintah menekankan berdamai bukan menyerah!. Tapi kalau kita telusuri lagi, coba deh kita buka kbbi. Da.mai berarti tidak ada perang; tidak ada kerusuhan; aman; tenteram; tenang; rukun; keadaan tidak bermusuhan. Dan ber.da.mai berarti berhenti bermusuhan;berunding untuk mencari kesepakatan. Sederhananya kita artikan keadaan tanpa perang, tanpa permusuhan, dan hidup dengan tenang dan tenteram. Dalam sebuah peperangan umumnya pasti ada yang kalah dan menang, atau jika di ambil alternatif pilihan maka akan ada perundingan perdamaian. Untuk mencari jalan tengah dan jalan terbaik mengakhiri peperangan tanpa ada yang keluar sebagai pemenang ataupun pecundang. Nah, dengan tafsiran tersebut kalau kita analogikan virus corona sebagai musuh atau lawan sesuai apa yang di sampaikan pak Jokowi tempo lalu untuk memerangi virus corona, maka akan ada yang menang atau kalah dalam peperangan kemanusiaan ini. Pilihannya hanya itu, kalau gk menang ya kalah. Dan beberapa waktu belakangan pak Jokowi kembali berbicara bahwa kita harus berdamai dengan virus corona. Dalam situasi perang, yang belum di ketahui siapa pemenang dan siapa pecundang, berdamai adalah pilihan yang diikuti dengan perundingan. Yang jadi pertanyaannya, siapa yang berunding dengan tuh virus corona? Apa yang diperundingkan? dan hitung-hitungan untung rugi nya gimana ? kapan perundingannya? kenapa tiba-tiba masyarakat disuruh berdamai ?
Dan kalau kita menelisik apa yang di sampaikan oleh jubir pemerintah dalam penanganan covid-19, yang mengatakan berdamai artinya hidup beradaptasi dengan pola hidup baru, dan bukan berarti menyerah. Mau menanggapinnya sederhana pak, kalau soal beradaptasi ini, artinya membiasakan diri hidup berdampingan dengan tuh virus corona pak ? ini virus corona emang sampai kapanpun gk bisa total balik ke wuhan pak, tapi kalau membuat kita beradaptasi dengan doi, yang ada takutnya doi nyaman pak dan gk mau balik ke wuhan. Kalau begini terus menerus, ini bukan berdamai pak, tapi kita di kelabuhi sama tuh virus corona dan akhirnya kita kalah pak. Gak ada kata berdamai dalam perang melawan lawan yang gk keliatan pak, dan gak ada adaptasi dengan suatu yang bisa merenggut nyawa manusia pak.