Halaman

Jumat, 05 Juni 2020

Perundingan Antara Pemerintah RI Dengan Corona Menghasilkan Sebuah Seruan Untuk “Berdamai”. Perang Belum Selesai Malah Disuruh Damai. Awas Kita kalah kenak Prank Sama Corona.

Statement presiden yang menghimbau masyarakat untuk berdamai dengan virus corona menuai kontroversi dari publik. Jelas saja kontroversi, lah wong di maret 2020 aja tuhh, presiden sendiri yang bilang kalau kita harus melawan corona dalam kata lain mengajak masyarakat untuk berjuang memutus mata rantai penularan. Belum juga ada penurunan kasus yang signifikan, PSBB di beberapa daerah juga masih serabutan belum tertib aturan. Dan sekarang pak presiden yang terhormat mengajak masyarakat untuk berdamai dengan corona ? Kalau tuh virus gk mau berdamai gimana pak? Kalau tuh virus ngajak sahabatan gimana pak,menjadikan tubuh manusia sebagai inangnya ? Atas dasar apa kita harus berdamai dengan doi pak ? Doi tuh ganas pak gk jinak . Dunia memerangin corona aja nih pak, uda banyak korban berjatuhan, menghalau atau menjatuhkan lawan apakah jalan terakhir adalah berdamai pak ? Damai itu memang indah pak, tentram tenang dan nyaman. Tapi ya kalau berdamainya dengan tuh virus corona, selesai yang ada kita pak.
Beberapa negara yang awal kasus penyebarannya melakukan lockdown kini sudah mulai melonggarkan aturan, bahkan sudah sampai pencabutan status lockdown, dikarenakan adanya penurunan kasus dan telah melewati puncak pandemik. Ini yang menjadi alasan beberapa kepala negara mengambil kebijakan pencabutan status lockdown di negara mereka. Berbeda halnya dengan Indonesia, bahkan sampai hari ini tidak ada yang tau pasti di mana letaknya kurva puncak pandemik yang terjadi. Dikarenakan terus terjadi peningkatan kasus setiap harinya. PSBB sudah dilakukan di berbagai daerah namun tampaknya hal tersebut belum efektif. Bukannya melakukan evaluasi untuk menurunkan peningkatan kasus dan memperbaiki sistem maupun regulasi, pemerintah yang ada malah mengeluarkan pernyataan untuk berdamai dengan corona. Hal ini kemarin langsung disampaikan oleh presiden sendiri. Dengan dalih ini virus gk akan pernah hilang, alias harus terbiasa hidup berdampingan dengan virus. Ya gk berdampingan jugak kali pak !
Pernyataan presiden itu tentu menuai kontroversi di tengah masyarakat. Dan seperti biasa, ketika ada informasi yang ramai di perbincangkan, pasti setelahnya ada seorang klarifikator yang meluruskan maksud dari pernyataan yang di sampaikan. Kalau di luruskan, berarti yang kemarin bengkok ? ngawur ? atau ngablun ? atau asbun?  Atau ngeblunder ? Ehhhh hahaha. Benar saja, berdasarkan info dari Kompas.com, juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19 Achmad Yurianto melalui keterangan pers di Graha BNPB, Jakarta menegaskan soal hidup berdamai dengan virus corona, sebagaimana yang sempat dibicarakan oleh Presiden Joko Widodo . Menurut Yuri, hidup berdamai dengan virus corona artinya beradaptasi dengan pola hidup baru dengan menjalankan protokol kesehatan secara ketat. “Berdamai bukan menyerah, tapi kita harus beradaptasi untuk mengubah pola hidup kita dengan menjalankan protokol kesehatan yang ketat, benar, disiplin,” kata Yuri dalam konfrensi pers dari Graha BNPB, Jakarta, Sabtu (16/5/2020).
Berdasarkan laporan World Health Organization (WHO), kata Yuri. Virus corona tidak akan hilang dalam sekejap. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya mengubah perilaku diri demi menjaga kesehatan. “Ini permasalahan yang akan menimpa seluruh negara. Maka, saatnya kita sekarang mengubah perilaku kita untuk hidup dalam kondisi bumi yang masih terancam dengan adanya virus corona”. Tambah Yuri.
Singkatnya, jubir pemerintah menekankan berdamai bukan menyerah!. Tapi kalau kita telusuri lagi, coba deh kita buka kbbi. Da.mai berarti tidak ada perang; tidak ada kerusuhan; aman; tenteram; tenang; rukun; keadaan tidak bermusuhan. Dan ber.da.mai berarti berhenti bermusuhan;berunding untuk mencari kesepakatan. Sederhananya kita artikan keadaan tanpa perang, tanpa permusuhan, dan hidup dengan tenang dan tenteram. Dalam sebuah peperangan umumnya pasti ada yang kalah dan menang, atau jika di ambil alternatif pilihan maka akan ada perundingan perdamaian. Untuk mencari jalan tengah dan jalan terbaik mengakhiri peperangan tanpa ada yang keluar sebagai pemenang ataupun pecundang. Nah, dengan tafsiran tersebut kalau kita analogikan virus corona sebagai musuh atau lawan sesuai apa yang di sampaikan pak Jokowi tempo lalu untuk memerangi virus corona, maka akan ada yang menang atau kalah dalam peperangan kemanusiaan ini. Pilihannya hanya itu, kalau gk menang ya kalah. Dan beberapa waktu belakangan pak Jokowi kembali berbicara bahwa kita harus berdamai dengan virus corona. Dalam situasi perang, yang belum di ketahui siapa pemenang dan siapa pecundang, berdamai adalah pilihan yang diikuti dengan perundingan. Yang jadi pertanyaannya, siapa yang berunding dengan tuh virus corona? Apa yang diperundingkan? dan hitung-hitungan untung rugi nya gimana ? kapan perundingannya? kenapa tiba-tiba masyarakat disuruh berdamai ? 
Dan kalau kita menelisik apa yang di sampaikan oleh jubir pemerintah dalam penanganan covid-19, yang mengatakan berdamai artinya hidup beradaptasi dengan pola hidup baru, dan bukan berarti menyerah. Mau menanggapinnya sederhana pak, kalau soal beradaptasi ini, artinya membiasakan diri hidup berdampingan dengan tuh virus corona pak ? ini virus corona emang sampai kapanpun gk bisa total balik ke wuhan pak, tapi kalau membuat kita beradaptasi dengan doi, yang ada takutnya doi nyaman pak dan gk mau balik ke wuhan. Kalau begini terus menerus, ini bukan berdamai pak, tapi kita di kelabuhi sama tuh virus corona dan akhirnya kita kalah pak. Gak ada kata berdamai dalam perang melawan lawan yang gk keliatan pak, dan gak ada adaptasi dengan suatu yang bisa merenggut nyawa manusia pak. 

Dia

Teman diskusi
Teman berantam
Teman dari segala jenis teman
Berdiskusi hingga menembus ruang
Berbicara hingga menembus harapan
Bercerita hingga menembus batasan
Dan memimpikan masa depan 
Akan semua impian yang kita diskusikan
Bukan tentang kisah manis dua orang
Tapi tentang masyarakat, kesejahteraan, sejarah terlebih negara
Se asik itu diskusi yang selalu bisa membuat jatuh hati berulang kali
Tak ada sapa apa kabar
Tak ada cerita sedang apa
Tak ada basa basi yang basi
Tak ada membahas hal pribadi
Dan tak ada privasi yang coba untuk di telusuri
Keresahan dan kepedulian akan sekitar
Membuat rangkaian ini perlahan tersambung
Seperti arus yang mengaliri listrik dan menghidupakn lampu
Menimbulkan cahaya dan harapan
Seasik dan seunik itu
Ntah sampai kapan
Besok, hari ini, lusa atau selama nya

Tak Terdefinisi

Benar
Urusan hati berat sekali
Tak ada rumus empiris
Dan tak bisa hanya sekedar logis
Bahkan kita sendiri kadang bingung
Standart dan variabel apa yang sebenarnya kita gunakan
Yang pasti adalah jika sudah menggunakan hati
Maka tanyakan pada dia sang pemilik hati
Untuk semua yang ingin kita selami

Dilema

Kadang Allah hanya mempertemukan
Bukan untuk mempersatukan
Setiap ada satu kata percaya
Harus selalu siapkan ruang untuk kecewa
Jika tak mau kecewa, jangan pernah percaya
Untuk siapapun yang berusaha masuk kesana
Jangan pernah memberikan harap
Jika ujungnya hanya untuk meninggalkan
Jangan pernah memberi rasa lebih 
Jika ujungnya tak berakhir pada kepastian
Kita ini lucu sekali, saling tak sapa dan tak bertanya
Tapi semoga ada doa yang menggema di angkasa

Material

Akan selalu ada pilar yang menegakkan
Akan selalu ada atap yang meneduhkan
Akan selalu ada dinding yang mendinginkan
Akan selalu ada pondasi yang mengokohkan
Dan akan selalu ada jalan untuk siapapun yang sedang berjuang
Yang terpenting bukan berjuang sama-sama
Tapi sama-sama berjuang
Karena struggle gk harus always together
Karena perjalanan berjumpa dengan persimpangan untuk dipilih atau dilewatkan

Terasing

Terkadang kita hanya orang asing 
Dalam dimensi yang lain
Terasing dalam suatu dimensi
Ataupun dimensi yang mengasingkan kita
Tanah dan detik yang sama
Namun dimensi yang berbeda

Yang Terjaga

Apa kabar hati
Semoga senantiasa baik dan terjaga
Aku tidak pernah tau dimana hati ini akan benar-benar berlabu
Apakah benar dia pelabuhan itu
Atau dia yang hari ini belum ku jumpa
Aku tak pernah seperti ini sebelumnya
Aku takut percaya, karena aku takut kecewa
Jika yang tampak di luar adalah kekuatan
Tapi sebenarnya jiwa ini sangat rapuh
Apalagi jika telah terjatuh
Wahai hati...
Tetaplah terjaga sampai waktunya tiba
Dia yang hari ini baik dan selalu ada untuk mu
Belum tentu akan hidup bersamamu
Wahai hati tetaplah terjaga
Jangan biarkan ada ruang yang telah terisi
Oleh dia yang belum halal bagimu
Ada orang terbaik yang telah memperbaiki diri
Dan terus bersiap untukmu, maka jaga hatimu
Perbaiki akhlaq, belajar lebih giat untuk bekal hidup bersamanya.....

Penembus Batas

Aku pilih dia yang berani
Berani ambil resiko
Berani arungi masalah bersama
Berani berlari dan terjatuh berulang kali
Berani bermimpi
Berani melakukan semua hal yang lebih
Dan yang pasti berani memilihku
Berani untuk menjadi pendampingku
Semoga kelak keberanian kita
Mempertemukan kita dalam ikatan yang dinanti
Yang di impikan setiap insan di bumi
Ikatan yang dengannya membuat kita hidup
Semakin berani menjalani hidup
Aku yakin kamu adalah orang yang berani
Karena memilihku adalah sebuah keberanian

KITA

Setiap kita punya kisah
Dan setiap kita juga punya cerita
Tapi,,,,
Apakah kisah dan cerita adalah kita
Apakah aku dan kau adalah kita
Apakah tanda tanya adalah kita
Dan apakah kita adalah takdir
Kisah kita telah tertulis jauh sebelum kita lahir
Dan cerita kita jauh telah tergambar sebelum kita terlahir didunia
Tapi, apakah akhir dari semuanya merujuk pada satu makna yang berarti “KITA”

Kamis, 04 Juni 2020

Kerja Negara Bercanda Hobi Prank Rakyatnya, Gajinya Berlipat Ganda Mereka yang Kita Sebut “Penguasa”

Negara hadir sejatinya untuk mengatur kehidupan dan kesejahteraan rakyatnya, namun bagaimana jika tak kunjung mensejahterakan? Penuh rentetan aturan tapi semuanya berantakan, alih-alih mengatur yang ada malah saling bentur. Di tengah pandemik, riuh suara rakyat ingin di rangkul, namun sayang pemerintah malah mukul. Ketika rasa percaya mulai ada, namun sayang ternyata yang kemarin cuman bercanda. Jika rakyat merasa sakit hati dan tertipu apa bisa menggugat negara? Etiskah menanyakan etika negara yang tak kunjung terlihat kredibilitasnya ? Kita rakyat harus apa? Di Paksa menikmati candaan yang sebenernya menyakitkan! Dengan dalih “pemerintah sedang bekerja sangat optimal untuk kesejahteraan rakyat” terdengar hanya sebagai slogan! Jika mata dan telinga rakyat bisa bicara, pasti mereka bosan mendengar dan melihat omong kosong yang terus di kampanyekan tanpa ada pembuktian.
Akhir desember 2019, dunia digemparkan dengan adanya sebuah wabah yang berasal dari Wuhan menyebar ke berbagai negara. Ada 27 negara yang mengkonfirmasi terinfeksi oleh virus korona di awal tahun. Negara-negara tersebut kemudian tanggap dan segera mengeluarkan banyak kebijakan untuk memutus penyebaran virus. Berbeda dengan Indonesia, di awal januari sampai akhir februari ketika negara-negara lain terus melakukan konfirmasi terkait penyebaran dan perkembangan virus corona kepada WHO , namun pemerintah Indonesia justru cendrung melemparkan guyonan. Membuat sebuah dagelan, selayaknya seorang yang dibayar untuk menghibur dan menenangkan. Bahkan Presiden sendiri di awal januari pernah mengatakan “virus corona tak terdeteksi di Indonesia”. Berlanjut ke Menkes yang juga ikut berkelakar, menantang Harvard buktikan virus corona di Indonesia dan menganggap, kekuatan do’a yang membuat RI bebas dari corona. Alhasil lelucon yang dilontarkan oleh para pejabat negara sebagai otoritas yang berkuasa, menimbulkan respon yang variatif di kalangan masyarakat. Ada yang percaya dengan semua guyonan yang dilemparkan penguasa saat itu, sedikit banyak dapat membuat  mayarakat tenang dengan situasi dunia yang sedang gempar . Ada juga kelompok masyarakat yang justru mempertanyakan respon pemerintah, dan tidak mempercayai belum terdeteksinya virus corona di Indonesia. Mengingat Indonesia adalah negara besar dengan penduduk nomor empat terpadat di dunia, terdengar mustahil jika tak terdeteksi. Benar saja, pada awal maret tepatnya tanggal 2 maret, Presiden mengumumkan langsung kasus pertama virus corona di Indonesia. Jelas hal tersebut membuat panik masyarakat yang sebelumnya menihilkan hal itu. Tentu kelakaran masuknya virus corona ke Indonesia yang di lemparkan para pejabat negara membuat masyarakat kesal, karena menilai negara lalai dan tidak siaga dalam melihat akan adanya bencana .
Tidak berhenti disitu, negara membuat prank kepada rakyatnya ditengah pandemik corona. Dengan tidak menerapkan karantina wilayah yang berdasar pada UU No.6 Tahun 2018 yang mengatur tentang karantina kesehatan. UU tersebut mengatur tentang adanya tanggung jawab negara dalam menghidupi rakyatnya selama penerapan karantina wilayah . Berdasarkan UU  tersebut negara bertanggung jawab pada pelayanan kesehatan, kebutuhan pangan, dan kebutuhan sehari-hari lainnya selama masa karantina.  Namun sayang,  justru UU yang dibuat sendiri di masa penguasa yang sama, tidak di terapkan sepenuhnya. Pemerintah memilih menerapkan metode lain dengan dalih tidak bisa memenuhi kebutuhan seluruh rakyatnya. Untuk itu yang di pilih adalah PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dengan membatasi ruang gerak masyarakat namun tidak memberhentikan secara total kegiatan di masyarakat. Bahasa sederhananya, silahkan berkegiatan ekonomi diluar melawan corona. Namun tidak ada jaminan dan perlindungan dari rasa aman dari pemerintah. Pemerintah memberikan aturan tanpa pilihan, memberikan solusi tapi bukan dalam bentuk jawaban terbaik. 
Dimasa yang sulit ini, membuat kelangsungan hidup masyarakat terancam. Krisis ekonomi yang terjadi di masyarakat sangat berdampak pada kehidupan masyarakat. Sektor yang sangat berdampak salah satunya adalah pembayaran tagihan listrik. Pemerintahpun tanggap dan merespon keresahan masyarakat. Melalui konfrensi pers, tertanggal 31 maret 2020   presiden menyampaikan bahwa pemerintah akan memberi subsidi listrik berupa diskon atau potongan tagihan pada listrik 900 VA sampai dengan digratiskan untuk listrik 450 VA. Namun faktanya pada akhir april, masyarakat di kejutkan dengan tagihan listrik yang naik. Bahkan mencapai dua kali lipat, nyatanya manis perkataan tidak semanis fakta lapangan. Kembali rakyat ditipu oleh bualan. Berasa mantan yang terus memuji di depan gak taunya selingkuh di belakang.
Saat himbauan dirumah aja terus di suarakan, dan kabar akan adanya penerapan karantina wilayah juga terus bertebaran membuat banyak masyarakat yang melakukan panic buying. Membeli makanan dengan jumlah yang besar karena takut kekurangan dan  kehabisan bahan makanan. Hal tersebut akan sangat berdampak pada stok pangan. Karena itu, pemerintah merespon anomali yang terjadi di masyarakat melalui konfrensi pers yang di lakukan Presiden tertanggal 19 Maret 2020 menyatakan bahwa “stok pangan aman, tidak ada yang perlu di khawatirkan untuk ketersediaan pangan” seru presiden sembari menenangkan rakyatnya. Namun sayangnya, pada tanggal 29 April 2020 Presiden kembali mengumumkan di konfrensi pers bahwa Indonesia defisit stok pangan di beberapa provinsi. Tentu ini sangat mengecewakan, pemerintah telah gagal memproyeksikan stok pangan untuk ketersediaan bahan makanan bagi masyarakat Indonesia. Bagaimana mungkin? Kok bisa gagal memproyeksikan ketersediaan bahan pangan yang sifatnya fundamental? Kacau!
Rasa sakit hati dan kekecewaan masyarakat akan prank dari negara belum berhenti sampai disitu. Pada 11 maret 2020 lalu, MA telah memutuskan untuk menolak kenaikan iuran dari BPJS. Hal tersebut bukanlah tanpa alasan, adanya payung hukum dan kondisi yang tidak memungkinkan untuk menaikkan iuran BPJS menjadi alasan yang paling mendasar . Namun sayangnya, di masa pandemik ini iuran BPJS justru Presiden malah menaikkannya mulai 1 juli 2020 . Jadi cerita nya presiden melawan putusan MA? Hal ini menjadi sebuah musibah ditengah wabah corona.
Serentetan panjang prank yang dilakukan negara mulai dari awal tahun sampai saat ini, bahkan di situasi tegenting menghadapi wabah, pemerintah malah menambah duka dan kepedihan di hati masyarakat. Inkonsistensi kebijakan dan aturan menjadi cermin bahwa negara tidak benar-benar serius menanggapi pandemik corona, atau masih sibuk membuat candaan yang terus tak masuk akal menambah irisan luka baru, bahkan sebelum menunggu luka lama sembuh. Di negeri ini ada UU yang menjadi acuan tindakan seseorang bisa di bawa ke jalur hukum jika membuat sebuah kekacauan atau kegaduhan, prank adalah salah satu bagian didalamnya. Tidak main-main, pidana adalah sanksi yang menanti. Namun bagaimana jika kegaduhan dan kekacauan justru malah ditambahkan oleh negara? Bagaimana jika Negara lah sebagai aktor utama yang giat melakukan prank kepada rakyatnya ?