Kemarin semuanya baik-baik saja. Tidak ada duka, yang terlihat hanya tawa kebahagiaan. Tidak ada kecewa, yang ada hanya rasa bangga akan kehadiran dan saling memiliki. Tidak ada penyesalan, yang ada hanya rasa syukur atas segala nikmat yang dirasakan.
Sungguh saat itu rasanya tuhan itu baik sekali. Aku diberi segalanya bahkan tanpa aku minta. Aku memiliki semuanya sekalipun aku tidak membutuhkannya.Dan saat itu aku sampai tidak tau apa lagi yang ingin aku minta pada tuhan, dia telah memberiku semuanya bahkan lebih dari yang ku minta. Dari lahir aku sangat bersyukur dilimpahkan oleh banyak kasih sayang, terutama dari kedua org tua ku. Mereka sangat baik, orang tua terbaik di dunia. Mereka tau segalanyaa tentang anaknya. Dan mereka memberikan segalanya untuk anaknya, sekalipun itu dunia mereka. Itulah orang tua everything for my child kata mereka pada hidup. Bahkan ketika aku sakit saat kecil, lagi-lagi aku tetap bahagia dan dapat terus tersenyum dan tertawa. Karena orang tua ku sangat mengerti bagaimana membuat ku bahagia dan tetap tertawa. Namun aku tahu, pasti hati mereka sedih dan fisik mereka jauh lebih merasa sakit ketika melihat anaknya sakit. Itulah orang tua. Yang paling menderita disaat anaknya sakit, jatuh dan terluka dan yang paling bahagia melihat anaknya tertawa. Rasanya itu moment-moment terbaik dalam hidup. Meskipun saat itu usia ku 10 tahun dan aku mengalami sakit yang saat itu cukup membahayakan nyawaku. Bagaimana tidak, jika saja aku terlambat ditangani saat itu mungkin hari ini usiaku tidak akan sampai di umur 21 tahun. Lagi-lagi tuhan baik sekali, aku diberikan seorang ibu yang sangat sigap dan tanggap merespon setiap keluh anaknya. Dia juga seorang ibu yang sangat sabar. Ditahun itu, hampir setiap bulan nya aku dirawat di RS. Dengan diagnose penyakit yang tidak diketahui kejelasan pastinya. Jika hanya sakit biasa, kenapa tidak pernah sembuh dan berakhir, semua sakitnya akan berulang dengan tempo waktu tertentu. Hampir semua dokter spesialis sudah memeriksa ku, namun tetap saja tidak ditemukan penyakit yang membahayakan, sambut mereka. Dan saat itu pun tiba, ketika kondisi ku semakin menurun, bahkan berjalan saja sulit. Mungkin itu fase menyakitkan dalam hidupku, tapi lagi-lagi yang lebih menjerit dan meronta adalah kedua org tuaku. Apalagi ketika tengah malam seorang dokter spesialis yang sudah paru baya, meminta persetujuan kepada kedua org tuaku untuk segera mengoperasiku. Hal itu tentu sangat ditolak oleh mereka, bagaimana mungkin anak seusia ku saat itu harus mengalami operasi besar, namun tidak ada pilih karena nyawa menjadi bayarannya jika tindakkan pengoperasian tidak segera dilakukan. Saat itu, aku melihat tangis mereka, bahkan masih sangat jelas tergambar di ingatanku. Bagaimana hancurnya raut diwajah mereka. Aku yakin rasa sakit yang aku alami saat itu tidak sebanding dengan pedihnya penderitaan mereka melihat kondisi ku saat itu. Hingga akhirnya, keputusan sulit itupun diambil. Tidak berenti disitu, lagi-lagi tuhan masih menguji kami dengan penyakit baru yang kembali ku rasakan. Dengan perasaan dan duka yang sama, mereka tetap berusaha menghiburku, tak pernah ada hardik ataupun justifikasi kesalahan. Yang ada hanya kehangatan akan kasih sayang. Jika bisa dikatakan mungkin yang kurasakan saat itu, fisik ku sakit tapi jiwa ku tidak. Aku tetap bahagia, apapun kondisinya. Mungkin sekalipun aku tiada saat itu, aku akan tiada dengan rasa bahagia dan penuh syukur. Banyak sekali nikmat yang aku rasakan saat itu, dan banyaknya pengorbanan yang aku lihat dari kedua orang tua ku. Rasanya tidak ada masalah yang berarti dalam hidup kami saat itu, mereka selalu menjadi orang tua terbaik yang sangat aku kagumi.
Waktu terus bergulir, akupun mulai beranjak dewasa.kesedihan pun perlahan mulai datang. Mulai memasuki dan mengambil alih ruang-ruang yang penuh kebahagiaan dalam bilik-bilik hati ku. Gulir setiap waktunya mengganti semua pelangi menjadi badai. Yang membuat hari ini, aku tidak lagi menyukai warna lain selain hitam dan putih. Ruang-ruang gelak tawa itu perlahan sirna, tinggal kekosongan,dan dimasuki oleh amarah, kekecewaan dan hardik yang tak pernah ada habisnya. Katanya, usia 17 atau 18 tahun adalah fase dewasa dalam hidup setiap orang. Itu merupakan fase peralihan seseorang untuk ada pada tingkat dewasa. Saat usiaku memasuki 18 tahun, benar saja. Ujian itu langsung datang menyapaku, tepat dihari ulang tahunku yang ke 18. Kegaduhan yang semakin menjadi mulai mengisi ruang hari-hariku. Semuanya sangat berbeda, hingga aku sulit berpikir apakah aku bermimpi atau selama ini aku bermimpi dan kenyataan itu adalah kondisi hari ini. Mana yang sebnarnya mimpi dan mana yang sebenarnya terjadi. 18 tahun adalah awal masa tersulit ku, hingga aku sadar bahwa, aku tidak pernah bermimpi. Semuanya itu nyata, dan terjadi dalam hidupku. Kata orang, hidup yang luar biasa itu ketika didalamnya kita merasakan suka dan duka. Tidak hanya suka, tapi juga duka. Tidak hanya duka, tapi juga suka. Tuhan itu adil, dia memberi setiap orang kebahagiaan, namun dia juga memberi setiap orang kesedihan. Lagi-lagi tuhan itu baik sekali pada ku. Tuhan ingin aku segera mendewasa, bahkan diawal usia pendewasaan ku. Membalik segala kondisi dan situasi yang selama ini ku miliki dan ku alami. Semakin hari, dan semakin mendewasa aku banyak belajar,dan sadar. Ternyata sejak dulu, bahkan sejak aku lahir kesedihan itu sudah mulai datang. Namun semua kesedihan dan duka itu ditanggung oleh kedua orang tuaku. Tak pernah mereka bagi dengan anaknya. Ternyata sejak dulu ada yang saling bertahan demi senyuman dan kebahagiaan anaknya. Ada yang terus bersabar, meskipun sakit selalu menghampiri. Dan hari ini yang menjadi pertanyaan terbesar nya adalah, bagaimana mungkin kedua orang baik bahkan yang sangat baik bisa saling menderita dan tidak bahagia? Diusiaku yang sekarang mereka mulai menceritakan segalanya, mulai dari sejak dulu. Mereka mulai membagi duka-duka mereka. Jujur saja, mungkin jika aku di posisi mereka aku tak akan sanggup bertahan sampai dititik ini. Untuk apa bertahan pada sesuatu yang membuat kita tidak bahagia. Namun lagi-lagi, alasannya hanya satu untuk anaknya. Mereka bertahan sampai detik ini demi anak. Hingga akhirnya setelah kami mulai beranjak dewasa, mereka menceritakan segalanya. Dari yang ku baca sejauh ini, jika ada yang salah maka mereka berdua salah dan jika ada yang harus disalahkan maka kami, anaknya lah yang menjadi kesalahan terbesar. Karena harus terus bertahan dalam kondisi yang sebenarnya saling menyiksa mereka. Namun, aku tidak melihat ada kesalahan disini. Yang kulihat adalah adanya perbedaan prinsip dan ke egoisan. Sekali lagi, mereka tidak salah. Rasanya jika semuanya berjalan sendiri-sendiri tanpa kembali bersama itu akan lebih baik. Kadang kita berusaha sekuat tenaga untuk bertahan dan bersabar akan apa yang telah kita pilih, padahal terkadang tuhan memberi kita pilihan lain untuk mendatangkan kebahagiaan. Dan kebahagiaan itu harus diperjuangkan, harus berani melepaskan sesuatu dan memperjuangkan yang baru dalam hidup. Karena sejatinya hidup ini harus terus berlanjut.
Harapan ku hanya satu, apapun keputusannya semoga itu membawa kita pada kebahagiaan. Kebahagiaan harus diperjuangkan. Dan hidup sejatinya adalah bagaimana cara kita untuk dapat bahagia.
Tuhan terimakasih, aku yakin dibalik semua ini engkau sedang mendewasakan ku. Engkau ingin aku kuat dan tegar, bantu aku untuk mengerti semuanya. Jika aku boleh meminta, tolong kembalikan lagi semua gelak kebahagiaan yang dulu memenuhi setiap ruang dihatiku, kembalikan lagi semua pelangi seperti dulu. Jangan buat aku buta akan arti kebahagiaan yang sebenarnya.
Tolong hadiahilah kedua orang tuaku kebahagiaan, aku mohon. Angkat duka mereka, jika bisa gantikan saja kebahagiaan ku untuk mereka. Sudah terlalu banyak kesedihan dan penderitaan dalam hidup mereka. Angkatlah duka mereka, ku mohon.
Jaga mereka dalam penjagaanMu, Yang Maha Kuat :)